Jumat, 11 Februari 2011

OOHHH… ALAM NEGERIKU, AKU MENANGIS UNTUKMU


Negeri kita Indonesia, adalah negeri yang besar. Sebuah negeri surga dengan berbagai kekayaan melimpah  yang sering menimbulkan keirian bangsa-bangsa lain di dunia. Sebuah negeri yang terbentang dari Sabang, hingga kesebuah kota  yang terletak di ujung timur, yakni Merauke. Khatulistiwa yang menggaris tengah hingga menciptakan musim yang teratur dan alam tropis yang luar biasa. Hutan kita, sebagai paru-paru dunia. Laut kita, menyimpan berjuta harta, entah itu ikan, rumput laut, karang, pasir dan berjuta kekayaan lain yang masih tersimpan apik di dasar perairan ini.

Saya pernah membaca  artikel tentang kekaguman orang asing tentang Indonesia. Dia adalah seorang berkebangsaan Singapura . Seorang pengusaha yang sedang berkunjung ke Indonesia, di daerah Bandar Lampung tepatnya. Dia datang, lalu dia berkata kepada para penjemputnya, bahwa Indonesia tidak butuh dunia, tapi dunia yang membutuhkan Indonesia. Karena Indonesia punya segalanya. Alam yang melimpah, keragaman hayati, semuanya ada di Indonesia

Tapi dibalik itu semua, sebenarnya saya meneteskan air mata yang tak terlihat oleh orang lain. Sedih, melihat kondisi alam bangsa ini yang semakin lama semakin menjadi. Rasanya, negeri ini hanya diperuntukkan bagi kaum pemodal saja. Miris memang, melihat para pemodal-pemodal dan investor asing yang mengekploitasi kekayaan negeri ini tanpa memperhatikan faktor lingkungan. Hancurlah alam ini dibawah tangan-tangan mereka yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan pribadinya masing-masing tanpa memperhatikan faktor alam dan lingkungan yang sebenarnya menghidupi mereka dan rakyat negeri ini.

Alam kita sudah banyak yang rusak oleh tangan-tangan mereka. Para investor-investor itu telah mengeruk harta kekayaan Indonesia dan meninggalkan kerusakan yang serius serta limbah  yang berbahaya.

Sebut saja Freeport. Freeport adalah sebuah perusahaan Multinasional dari Amerika yang mengeruk bumi Papua selama-berpuluh-puluh tahun. Disitu mereka mengeruk sejumlah tembaga dan uranium. Aktivitas pertambangan PT Freeport di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 hingga saat ini telah berlangsung selama 42 tahun. Selama itu pula, kegiatan bisnis dan ekonomi Freeport di Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi perusahaan asing tersebut, namun belum memberikan manfaat optimal bagi negara dan masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan.


Freeport
Bahayanya, Freeport  telah membuang tailing dengan kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) melalui Sungai Ajkwa. Limbah ini telah mencapai pesisir laut Arafura. Tailing yang dibuang Freeport ke Sungai Ajkwa melampaui baku mutu total suspend solid (TSS) yang diperbolehkan menurut hukum Indonesia. Limbah tailing Freeport juga telah mencemari perairan di muara sungai Ajkwa dan mengontaminasi sejumlah besar jenis mahluk hidup serta mengancam perairan dengan air asam tambang berjumlah besar.

Dari hasil audit lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, terungkap bahwa tailing yang dibuang Freeport merupakan bahan yang mampu menghasilkan cairan asam berbahaya bagi kehidupan aquatik. Bahkan sejumlah spesies aquatik sensitif di sungai Ajkwa telah punah akibat tailing Freeport.

Pertambangan Emas Newmont di Nusa Tenggara

Pertambangan Newmont
Tak hanya Freeport, kita masih bisa menyaksikan perusahaan multinasional lain yang membabat hasil alam negeri ini. Adalah PT. Newmont, sebuah perusahaan asal Amerika yang telah memulai penambangan emas dan tembaga selama lebih kurang 20 tahun, telah menyebabkan begitu banyak kerusakan alam di bumi Sumbawa itu. Pertambangan PT. Newmont telah menyebabkan kerusakan di laut dikarenakan pembuangan limbah ke laut dan lingkungan sekitar dimana limbah-limbah tersebut masih mengandung merkuri dan arsenik.

Penambangan Pasir Laut
Tak berhenti disitu saja, bahkan pasir laut kitapun juga dikeruk untuk dijual ke negara lain seperti singapura. Bisa kita lihat, gedung-gedung pencakar langit yang mewah yang ada di Singapura sekarang, adalah pasir dari Indonesia yang digunakan untuk pembangunannya. Tanpa pasir dari negara ini, mungkin Singapura tidak akan nampak seperti yang sekarang ini.

Lihat saja keadaan pulau nipah yang sekarang, yang hampir saja tenggelam akibat pengerukan dan pencurian pasir itu.

Kerusakan pulau Nipah

Penebangan Hutan Secara Liar/ Illegal Logging.
Hutan gundul
Penebangan hutan secara liar di negeri ini juga telah merusak hutan,lingkungan, alam dan ekosistem serta melenyapkan flora dan fauna yang begitu beragam yang ada di hutan negeri ini.
Sebutan sebagai paru-paru duniapun bisa hilang karena kegiatan illegal logging ini. Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat terjadinya pengrusakan hutan yang terus-menerus. Hal ini akan berdampak pada semakin seringnya terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan.

Beberapa saat yang lalu, saat saya pulang kampung, karena saya kuliah di kota Surabaya, jadi kadang-kadang saya pulang. Saat saya jalan-jalan ke kawasan pantai popoh, yakni sebuah pantai yang terletak di kawasan selatan kabupaten Tulungagung Jawa Timur, saya melihat banyak hutan-hutan yang gundul. Dan disitu saya heran, kenapa lahan-lahan yang kosong itu malah ditanami pohon-pohon seperti pisang dan singkong?? Saya bingung, apa yang terjadi dengan semua ini?? Bagaimana kalau musim penghujan tiba? Bagaimana kalau banjir atau terjadi tanah longsor??

Hutan di Tulungagung
Berdasarkan beberapa informasi yang saya dapat, penebangan liar di daerah selatan Jawa Timur ini tidak hanya terjadi di kawasan menuju wisata pantai popoh saja. Banyak juga daerah-daerah di Blitar selatan seperti Bakung, atau Wates juga gundul. Atau kawasan-kawasan selatan daerah Trenggalek, juga tidak ada hutan yang rimbun seperti aslinya.


Kerusakan-kerusakan alam lain yang terjadi di negeri ini antara lain :

Kerusakan Terumbu Karang di Perairan Indonesia

Kekayaan Terumbu Karang Indonesia
TERUMBU karang di perairan Indonesia kerap disebut-sebut dalam kondisi rusak parah. Bila mengacu pada penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P3O-LIPI), terumbu karang yang hancur lebur mencapai hampir 50 persen, sedangkan yang masih sangat baik tinggal 6,2 persen. Kerusakan itu terutama disebabkan praktik pengeboman ikan dan pengambilan karang untuk bahan bangunan dan reklamasi pantai.

Kondisi rusaknya terumbu karang itu akan terasa makin memprihatinkan bila mendengar keterangan dari pakar terumbu karang, yang mengatakan bahwa pemulihan terumbu karang memakan waktu cukup lama, berpuluh hingga beratus tahun. Itu pun bila kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung.

Padahal, fungsi terumbu karang amat besar bagi kelangsungan hidup ikan dan beragam biota laut lainnya, mulai dari tempat mencari makan hingga berkembang biak. Oleh karena itu, rusaknya terumbu karang berarti juga menurunnya populasi ikan. Itu berarti pula berkurangnya pasokan ikan sebagai bahan pangan manusia. Manfaat lain dari terumbu karang adalah sebagai pelindung pantai dari abrasi

Kerusakan Sungai

Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan daerah aliran sungai, atau yang sering kita sebut dengan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.

Dampak kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius.

Tersumbatnya aliran sungai juga akan menyebabkan tersumbatnya sebuah aliran sungai yang dapat mengakibatkan banjir, terutama di kota-kota besar. Banyak masyarakat yang kurang sadar akan kebersihan sungai di lingkungan mereka. 

Saya ingat, saat saya membeli sebungkus nasi goreng di pinggir jalan disalah satu tempat di Surabaya. Saat saya mengantri, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, penjual nasi goreng itu membuang sampah dan sisa-sisa nasi dari pembeli kesebuah selokan yang ada dibelakangnya. Wahh..saya sempat tertegun saat melihat ini semua. Bayangkan saja, pemkot saja tidak punya duwit untuk membiayai pembersihan atau perawatan sungai dan selokan-selokan yang ada di seluruh kota ini. Nah ini, dia malah membuang sampahnya kesitu. Saya bener-bener prihatin melihat ini semua. Mungkin inilah, salah satu penyebab banjir yang ada di perkotaan, orang buang sampahnya aja ke selokan, hmm….

Kerusakan Udara

Seperti polusi udara yang disebabkan dari kemacetan, asap pabrik-pabrik, kebakaran hutan  yang kesemuanya ini dapat merusak kebersihan udara di negeri ini. Kita lihat, berapa juta jumlah kendaraan yang lewat dalam satu hari saja. Apalagi volume kendaraan itu semakin hari semakin bertambah, hingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Bisa kita bayangkan, berapa banyak gas beracun itu yang terbuang dari knalpot-knalpot kendaraan itu ke udara dalam setiap menitnya.
Polusi udara

Kerusakan Bakau & Abrasi Laut

Tidak hanya kerusakan hutan , kerusakan garis pantai semakin tahun juga semakin bertambah. Hutan bakau yang sebelumnya sebagai pelindung pantai dari abrasi air laut sudah berubah fungsinya menjadi pertambakan. Banyak bakau-bakau yang ditebang untuk pembangunan areal pertambakan. Akibatnya, abrasi laut semakin menggila dan menyebabkan kerusakan kawasan pinggiran pantai yang luar biasa.

Hutan bakau yang berubah fungsi

Tragis memang, melihat ini semua. Melihat kondisi alam Indonesia yang begitu makmur dan sentosa dengan keanekaragaman yang berlimpah yang justru akan rusak oleh pemodal-pemodal asing dan segelintir orang yang mempunyai kepentingan atas itu.

Disamping masyarakat kita yang kebanyakan kurang sadar akan pentingnya fungsi alam dan lingkungan kita, masyarakat juga sering bertindak cuek atas kondisi ini. Mereka hanya berfikir, sesuatu hal yang menurut mereka berguna dan menguntungkan bagi kehidupan mereka, maka mereka akan melakukannya, termasuk dengan melanggar peraturan-peraturan yang ada. 

Mungkin itulah beberapa PR penting yang masih perlu diperhatikan oleh Bangsa ini. Sebuah kerusakan alam yang masih akan terus berlangsung, yang jika tidak segera diatasi akan merusak alam negeri ini. Bisa jadi, suatu saat nanti kekayaan alam ini hanya tinggal sejarah, yang hanya dapat dilihat dan dibaca oleh anak cucu kita dalam buku-buku sejarah.

Lalu, siapa yang paling bertanggung jawab? Dalam hal ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja. Kesadaran diri pribadi juga sangat penting untuk mensolusikan masalah-masalah ini. Mungkin kita bisa berbuat dari yang sederhana dulu, seperti menjaga lingkungan kita, mencoba untuk disiplin, menambah pengetahuan tentang alam, melakukan sosialisasi tentang bahaya alam atau bisa juga belajar untuk mengenal bagimana alam berperan untuk kita. Bagaimana alam telah menghidupi berjuta-juta rakyat negeri ini dan bagaimana alam telah menjaga keseimbangan antara ekosistem yang ada didalamnya, termasuk didalamnya adalah keselamatannya manusia.

4 comments:

Thommy AluDiN bAhaR mengatakan...

mulailah kecintaan lingkungan kita dari diri kita sendiri......

hehehehe....

nice thread.....

rachmawaty mengatakan...

Sudah saaatnya kita saling pengertian denga lingkungan kita.... alam akan damai jika kitapun ikut menjaganyaaaa

wahyumedia mengatakan...

Tomi : Betull..kita bisa mulai dari lingkungan yang paling kecil dahulu.. :)

Mbak Rachma : Iya mbak...kitapun juga akan ikut damai.. :)

Norma Rahma mengatakan...

Salam Lestari, semoga mata kita terbuka untuk melestarikan alam dan melawan siapapun yang merusak lingkungan... mari menjadi penerus Chico Mendes