Kamis, 22 Maret 2012

MENGINTIP BATIK TULIS “PRAMUGARI” JOGJAKARTA

Memang tidak akan ada habisnya, menceritakan kota yang satu ini. Jogja, sebuah kota  dengan system  pemerintahan yang hingga saat masih dipimpin oleh seorang raja, menjadikan kota ini  menjadi sangat istimewa. Tidak itu saja, Jogya juga telah menjelma menjadi kota wisata budaya dan sejarah rendah biaya. 

Kira-kira, apa ya yang bisa kita kunjungi dan perlu kita amati sebagai kota wisata budaya dan kota sejarah? Salah satunya adalah pusat pembuatan batik tulis. Terletak di jalan Langenastran, tempat yang dulunya milik Sri Sultan HB VII ini telah menjelma menjadi rumah budaya yang menjadi tempat pembuatan batik tulis asli Jogjakarta. Disini kita bisa mencoba belajar membatik. Atau setidaknya mengamati bagaimana proses membatik itu. Ternyata, membatik ada beberapa proses atau tahapan sebelum menjadi kain batik seperti yang kita gunakan saat ini.

1.       MOLA (Membuat pola)                       : Membuat pola pada kain yang akan kita batik.
2.       NGISENI  Nyanting)                           : Menuangkan lilin kedalam kain yang telah dipola.
3.       NERUSI (Penyelesaian kedua)           : Membatik bagian yang sebaliknya.
4.       NEMBOKI                                         : Menutup bagian-bagian yang tidak akan diberi warna.
5.       NGELIR (Mewarnai)                           : Memberi warna sesuai yang dikehendaki.
6.       NGLOROD                                        : Menghilangkan lilin yang ada di dalam kain.

Selain bisa mengamati beberapa proses membatik seperti diatas, kita juga bisa melihat-lihat batik yang sudah jadi yang bisa kita beli untuk oleh-oleh kita, tentu dengan harga yang sesuai dengan kualitas batiknya karena batik disini memang cukup bagus dan berkualitas super.

Satu hal yang tak kalah unik disini adalah, bentuk bangunan yang masih asli, seperti sedia kala saat Sri Sultan VII masih hidup, lengkap dengan rumah ayam di samping kiri dan kanan rumah dengan satu buah kereta kuda yang terletak di depan sebelah kanan rumah ini. Selain itu, sebuah bangunan masjid juga masih berdidri dengan kokoh. Masjid ini juga peninggalan sri sultan HB VII yang disebut dengan masjid pungkuran.

Sebuah radio jadul juga terlihat masih kokoh dengan kondisi yang masih sangat bagus. Terbukti radio itu masih bisa diputar dengan suara yang disambungkan ke spiker hingga terdengar cukup nyaring. Lalu saya coba tanyakan kepada petugas yang ada disitu, dan dia menjawab bahwa radio itu sudah ada sejak jaman belanda. Wooww, radio yang luar biasa. Sebuah barang antik yang sudah pasti mahal dan tak ternilai harganya.

3 comments:

Ayu Agitasari mengatakan...

kangenn jogja...
what a wonderful town....
:)

Fuad hahihu mengatakan...

Masih di jogja kah ?
Aku juga mau kesitu bro.. hehehe

wahyumedia mengatakan...

@Ayu Agitasari : hehehe...pesona Jogja emang tiada habisnya Yu...

@Fuad hahihu : udah enggak Ad..itu saya kesananya bulan kemarin... :)