Jumat, 03 Februari 2012

MELIHAT PUSAT PEMBUATAN BAKPIA DI JOGJA

Bakpia 25, bersama kawan
Berkunjung ke Jogya, memang salah satu hal sangat menyenangkan. Apalagi ramai-ramai bersama dengan teman, sungguh perjalanan yang mengasikkan. Jogya yang dikenal sebagai kota beragam rupa memang bisa diharapkan untuk menghibur otak kita dalam sebuah perjalanan wisata. Kota wisata banyak rupa. Wisata budaya, wisata sejarah, wisata kuliner, Jogya menjadi kota wisata terpenting dalam negeri yang memang sudah kaya ini.

Ke jogya, memang banyak pilihan berwisata. Salah satunya adalah wisata kuliner yang rasanya tidak boleh kita lewatkan, yakni bakpia. Bakpia merupakan jajanan khas Jogya yang sejarahnya berasal dari negeri Cina. Aslinya bernama Tou Luk Pia, yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Selain itu pula bakpia mulai diproduksi di kampung Pathuk Yogyakarta, sejak sekitar tahun 1948. Waktu itu masih diperdagangkan secara eceran dikemas dalam besek tanpa label, peminatnya pun masih sangat terbatas. Proses itu berlanjut hingga mengalami perubahan dengan kemasan kertas karton disertai label tempelan.

Pada tahun 1980 mulai tampil kemasan baru dengan merek dagang sesuai nomor rumah, diikuti munculnya bakpia-bakpia lain dengan merek dagang nomer berlainan. Demikian pesatnya perkembangan "kue oleh-oleh" itu hingga mencapai booming sejak sekitar tahun 1992.

Produksi bakpia yang saya kunjungi kemarin kebetulan adalah bakpia 25, yakni pembuatan bakpia yang dilakukan oleh bapak Arlen Sanjaya (Bp Arlen Sanjaya adalah generasi penerus pembuat Bakpia Pathok 25 yang dahulu berasal dari bisnis keluarga) . Produksi setiap harinya bervariasi, karena produk yang mereka buat "Selalu Baru dan Hangat". Untuk hari-hari biasa bakpia yang dibuat mencapai 5-7 adonan. Bahkan jika pasaran sedang ramai atau hari-hari libur produksinya mencapan 10-15 adonan, setiap satu adonan menghabiskan 15 kg tepung terigu.

Perusahaan Bakpia Pathuk "25" mempunyai 5 toko cabang yaitu 2 toko cabang di jalan AIP KS. Tubun dan 1 toko cabang di jalan Bhayangkara,serta 2 toko dijalan Laksada Adisucipto (jalan ke arah kota Solo). Toko-toko cabang ini biasanya mengambil bakpia dari pusat produksi dengan merek dagang 25. Pada tahun-tahun pertama, perusahaan menggunakan oven dengan bahan bakar arang. Setelah usaha beliau semakin sukses menambah lagi jumlah oven dengan bahan bakar gas.

Nahh, itulah sedikit cerita dari bakpia 25 yang saya kunjungi. Tempatnya mudah dijangkau, bisa naik becak. Tapi kalau kita datang sendiri tanpa menggunakan jasa becak, harga yang kita beli akan dipotong sebesar Rp 3.000,- karena itu untuk fee becak yang mengantarkan kita.

2 comments:

Wulan Eka Dalu mengatakan...

suka bakpia pathuk kacang ijo, merk apa aja asal masih anget :D

wahyumedia mengatakan...

@ Wulan Eka Dalu : Hahaha..sama mbak..yang rasa kacang ijo emang yang paling enak menurutku... :D